
Sobat Cuan, pernah nggak sih kamu mampir ke sebuah situs web dan merasa bingung tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya? Nah, inilah pentingnya Call to Action (CTA). CTA bukan hanya sekadar tombol atau link biasa, tapi lebih ke arah penggerak utama yang memandu pengunjung untuk melakukan sesuatu, baik itu membeli, mendaftar, atau bahkan sekadar mendapatkan info lebih lanjut.

Jadi, apa sih sebenarnya CTA itu? Call to Action atau CTA adalah elemen penting dalam pemasaran digital. Sederhananya, CTA adalah ajakan yang jelas dan terarah untuk menggerakkan pengunjung melakukan sesuatu. Misalnya, kamu punya bisnis online dan pengen calon pelanggan belanja produkmu, CTA-lah yang memberi petunjuk ke mana mereka harus mengklik.
CTA biasanya berbentuk tombol atau teks yang menyuruh pengunjung melakukan tindakan spesifik. Mulai dari "Daftar Sekarang", "Dapatkan Diskon", hingga "Coba Gratis", CTA ini benar-benar berperan besar dalam mengarahkan orang ke langkah selanjutnya.
Tanpa CTA yang efektif, pengunjung situsmu mungkin cuma akan bolak-balik di halaman tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Dengan CTA yang tepat, kamu bisa mengubah pengunjung yang hanya sekadar mampir jadi pelanggan tetap. Bahkan, kamu juga bisa meningkatkan interaksi dan mengarahkan mereka untuk terlibat lebih jauh, seperti mendaftar newsletter atau mengisi formulir untuk mendapatkan info lebih lanjut.
Di sinilah CTA menjadi penentu keberhasilan strategi marketing kamu. Dengan CTA yang kuat, kamu bisa memandu orang menuju konversi, alias tindakan yang kamu inginkan dari mereka. Jadi, apakah kamu sedang mencari lebih banyak leads, pelanggan, atau penjualan, CTA-lah yang memainkan peran kuncinya.
Nah, CTA yang bekerja dengan baik sebenarnya didasarkan pada beberapa prinsip psikologi dasar. Nggak cuma soal kata-kata yang catchy, tapi juga bagaimana CTA tersebut bisa mempengaruhi perilaku pengunjung. Yuk, kita bahas beberapa prinsip penting yang bisa bikin CTA kamu lebih efektif.
Setelah paham prinsip dasar CTA, sekarang kita masuk ke beberapa tips praktis untuk membuat CTA yang lebih menggigit. Nggak cuma soal teks, tapi juga desain, warna, dan posisinya juga penting. Yuk, kita simak!
Contoh CTA yang baik biasanya memberikan manfaat langsung yang bisa didapatkan pengunjung. Misalnya, kalau kamu menawarkan kursus online, CTA-nya bisa berbunyi "Mulai Belajar Sekarang" atau "Daftar untuk Kursus Gratis". Ini nggak hanya mengajak pengunjung untuk bertindak, tapi juga menjelaskan keuntungan yang mereka dapat.
Atau, kalau kamu menjual produk, CTA seperti "Dapatkan Diskon Hari Ini" atau "Coba Gratis Selama 7 Hari" akan jauh lebih menggoda dibandingkan sekadar "Klik di Sini". Jadi, selalu pastikan CTA memberikan nilai tambah atau insentif yang bisa membuat pengunjung lebih tertarik untuk mengklik.
Setelah CTA kamu live, jangan lupa untuk memantau performanya. Kamu bisa menggunakan tools analytics untuk melihat seberapa banyak pengunjung yang mengklik CTA dan berapa banyak dari mereka yang akhirnya melakukan konversi. Dengan begitu, kamu bisa terus mengoptimalkan CTA dan strategi marketing kamu.
CTA nggak cuma bisa dipasang di situs web, lho. Kamu juga bisa menambahkan CTA di media sosial, email marketing, bahkan di konten blog. Misalnya, di akhir postingan blog, kamu bisa menambahkan CTA untuk mengajak pembaca mendaftar newsletter atau mencoba produk kamu. Atau di media sosial, kamu bisa mengarahkan followers untuk klik link di bio.
Sobat Cuan, nggak bisa dipungkiri kalau Call to Action atau CTA itu sangat penting dalam marketing. Mulai dari meningkatkan konversi hingga membangun hubungan lebih dalam dengan pengunjung, CTA adalah elemen yang nggak boleh dilewatkan. Dengan CTA yang tepat, bisnis kamu bisa berkembang lebih cepat dan lebih efektif.
Dan sebelum kita selesai, izinkan saya juga menyarankan kamu untuk menggunakan Moota.co sebagai tools yang bisa membantu kamu mengelola transaksi bisnis. Dengan Moota, kamu bisa memantau transaksi bank secara otomatis, sehingga kamu bisa lebih fokus pada pengembangan bisnis tanpa khawatir kehilangan transaksi penting.
Semoga artikel ini membantu kamu membuat CTA yang efektif, Sobat! 🚀

Tentunya kita semua sudah tidak asing dengan bisnis startup, apalagi di Indonesia sendiri terdapat beberapa start up yang sudah berperingkat unikorn, bahkan telah ada yang berada di posisi dekakorn.
Namun sayangnya, banyak pula perusahaan startup di Indonesia hanya bertahan seumur jagung dan lenyap begitu saja. Memulai bisnis memang mudah, tapi mengembangkan dan mempertahankannya bukan persoalan sepele.
Oleh karena itu, sebagai pebisnis pemula, kita juga harus bisa mengembangkan bisnis dengan scale up untuk bisa naik ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Bagaimana cara scale up bisnis kita agar dapat melipatgandakan keuntungan? Berikut sedikit tipsnya.

investor bisnis startup (source: pixabay.com)
Bisnis apa saja pasti memerlukan sebuah modal. Besar kecilnya modal tergantung dari jenis bisnis yang akan dikembangkan. Tidak ada jaminan bisnis dengan modal besar akan lebih untung atau sebaliknya, semuanya tergantung dari pengembangan bisnis dan investor yang tepat.
Agar dapat mengembangkan bisnis dengan sukses, kita juga perlu investor yang sesuai, bukan hanya banyaknya modal saja yang digelontorkan. Investor yang salah justru akan membangun bisnis yang baru mulai berjalan, meskipun mereka telah memberikan modal besar.
Kita sebagai pemilik bisnis juga dapat kehilangan fokus bisnis dan bahkan kontrol terhadap perusahaan. Menemukan investor yang tepat dan sesuai sangat wajib dilakukan demi perkembangan bisnis yang lebih baik.

membangun tim startup (source: pixabay.com)
Cara scale up bisnis selanjutnya adalah dengan menemukan dan membuat tim-tim terbaik yang solid. Sebesar apapun sebuah bisnis, tetapi tidak memiliki tim yang bekerja dengan baik juga dapat mengancam keberlangsungan bisnis yang sedang dirintis.
Hal ini menjadi salah satu prinsip agar sebuah bisnis dapat scale up. Tidak semua pekerjaan dapat dilakukan sendirian, beberapa pekerjaan memang membutuhkan tenaga ahli dan profesional.
Tim terbaik yang terdiri dari orang-orang yang ahli di bidangnya tentu sangat diperlukan dalam mengembangkan bisnis. Tidak hanya terbaik saja, tim yang dibentuk juga harus solid dan memiliki integritas dalam bekerja.

sop dalam kerja (source: pixabay.com)
Dalam pengembangan bisnis dengan scale up, sistem baik yang tertata juga sangat diperlukan. Hal ini dapat dimulai dengan membuat berbagai kebijakan yang dijalankan secara sistematis, tidak acak. Bisa dengan membuat SOP yang jelas, hak dan kewajiban serta kewenangan karyawan, atau langkah-langkah menghadapi keluhan pelanggan.
Sistem yang tertata dan dijalankan dengan baik akan meningkatkan kinerja bisnis dengan baik pula. Selain itu, efisiensi dan produktivitas juga dapat ditingkatkan dengan sendirinya. Dengan peningkatan kedua hal tersebut, pastinya bisnis yang berjalan akan dapat berkembang lebih baik.

apa itu scale up bisnis (source: pixabay.com)
Membangun sebuah personal brand juga merupakan salah satu cara scale up bisnis. Personal brand yang baik tentu memberikan pengalaman yang berbeda kepada konsumen/audience. Bangun reputasi baik di depan para audience agar mereka menganggap kita adalah orang yang tepat dan ahli di bidang bisnis yang digeluti.

scale up bisnis startup (source: pixabay.com)
Bila bisnis sudah mulai berkembang dan mendapatkan reputasi yang baik, maka saatnya untuk menemukan jaringan baru atau memperkuat jaringan bisnis yang lama. Memiliki koneksi khusus dengan para orang tertentu bisa saja akan sangat menguntungkan.
Koneksi ini diperlukan terutama untuk mengembangkan bisnis agar lebih maju. Sudah banyak buktinya, mereka yang mendapatkan koneksi ke orang yang tepat cenderung memiliki jaringan bisnis yang sangat luas.
Setiap usaha tidak hanya dirintis saja, tetapi juga perlu dikembangkan dan ditingkatkan kemajuannya. Maka dari itu, scale up sangat perlu dilakukan, terutama bagi bisnis-bisnis startup.
Apakah sudah paham dengan cara scale up bisnis seperti di atas? Sudah siap untuk mempraktekannya?

Memiliki bisnis kecil namun menghasilkan omzet miliaran rupiah ternyata bukan cuma khayalan semata. Keinginan itu telah dibuktikan oleh Ali Muharam pemilik bisnis cemilan hits Makaroni Ngehe.
Pria kelahiran Tasikmalaya ini sekarang bisa mengantongi omzet hingga 3 miliar rupiah loh!
Namun kesuksesan Ali Muharam tidak lepas dari berbagai rintangan yang dia lewati.
Kehidupannya dulu yang susah dan ngehe ia lewati dengan memaksakan diri untuk bekerja keras mencari pundi-pundi rupiah agar ia tetap bisa bertahan hidup.
Kengehean itu lah yang mengantarkannya untuk berjualan Makaroni Ngehe.
Kenapa ngehe? Dan bagaimana dia memulai bisnisnya itu?
Simak ceritanya di bawah ini

strategi bisnis makaroni ngehe (source: instagram.com/alvow)
Apa sih ngehe itu?
Sedikit terdengar kasar namun kata ngehe memiliki cerita dan arti yang besar bagi Ali Muharam.
Kata ngehe menggambarkan bagaimana perjuangan yang harus dia hadapi untuk bertahan hidup, apalagi saat itu dia tinggal di ibu kota dan hanya bermodalkan lulusan SMA.
Ali sempat menjadi OB (office boy), lalu menjadi sales dan bahkan menjadi penjaga kantin di salah satu kantor di Jakarta.
Pernah juga ia bekerja sebagai penjaga toko baju di Jakarta Utara, namun kosan dia ada di daerah Jakarta Pusat. Dan Ali harus keluar biaya transportasi sampai 20ribu per hari.
Biaya transportasi itu adalah setengah dari total gaji dia yang tidak sampai 1 juta loh. Sehingga dia sering kehabisan uang dan tidak makan seharian. Kurang ngehe apalagi coba hidupnya Ali dulu?
Ngehe sendiri artinya adalah sangat memprihatinkan. Itulah yang melatarbelakangi Ali untuk membuat nama brand Makaroni Ngehe.
Namun dengan kata ngehe itulah nama brandnya memiliki arti yang kuat, simple dan juga mudah diingat.

kisah inspiratif ali muharam (source: instagram.com/alvow)
Ali berpikir untuk berkembang di dunia bisnis. Dia mencoba untuk meminjam modal dari sahabatnya sebesar 20juta rupiah. Padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana nanti mengembalikan pinjamannya.
Namun tekad Ali sangat kuat, bermodal dari cemilan khas lebaran yang sering dibuat oleh ibunya dia berpikir untuk menjual makaroni resep sang ibu tersebut.
Diapun akhirnya menyewa tempat usaha di kawasan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Ali mengkonsep tokonya sendiri mulai dari warna, interior bahkan dia sendiri yang memasak dan melayani pembeli. Hingga diapun rela untuk tidur di dapur tokonya daripada harus keluar uang untuk bayar kosan.
Namun dengan strategi penghematan itu dia bisa mendapatkan omzet 30 ribu rupiah per hari atau 900 ribu tiap bulannya. Dan penghasilannya lebih utuh dibanding ketika dia bekerja menjadi sales karena dia tidak keluar transportasi dan indekos.
Setiap hari pembelinya mulai bertambah mulai dari 100 ribu bahkan 500 ribu rupiah per hari. Dan hingga akhirnya dia bisa membayar cicilan hutangnya.

bisnis makaroni ngehe (source: instagram.com/alvow)
Kehidupannya yang dulu sulit tidak membuat dia lupa diri. Ketika penghasilannya mulai naik, dia tidak berpikir untuk foya-foya melainkan dia alirkan penghasilannya untuk membuka cabang baru Makaroni Ngehe.
Kini Makaroni Ngehe sudah memiliki 30 outlet yang tersebar di berbagai kota mulai dari Jabodetabek, Bandung hingga Yogyakarta.
Dan rata-rata omzet per outletnya mencapai 3 sampai 5 juta rupiah per hari. Kalau ditotal kurang lebih 3 miliar rupiah per bulan.
Tidak hanya penghasilannya yang meningkat, kini dia telah membuka lapangan pekerjaan bagi 400 orang yang menjadi pegawainya.
Outlet Makaroni Ngehe memiliki desain yang mencolok yakni warna merah yang dipakai untuk warna kanopinya. Warna merah ini identik dengan rasa pedas.
Pemilihan warna dalam sebuah brand memang sangat penting. Menurut jurnal Management Decision yang terbit pada tahun 2006, sekitar 62% hingga 90% keputusan pembelian pelanggan berdasarkan dari warna sebuah logo. (marketeers.com)

usaha makaroni ngehe (source: instagram.com/alvow)
Dulu Makaroni Ngehe hanya dikenal lewat mulut ke mulut (word of mouth). Butuh perjuangan lebih agar usahanya ini bisa dikenal banyak orang.
Namun kekuatan nama brand yang unik ini ternyata sangat membantu Ali dalam menjual makaroninya.
Hingga munculnya aplikasi antar makanan online atau yang kita kenal GoFood pada 2015 lalu langsung membuat Ali tergerak untuk bekerjasama menjadi salah satu merchantnya.
Dan betul saja, Makaroni Ngehe mulai dikenal lebih luas dan orderanpun semakin bertambah setiap harinya melalui aplikasi GoFood.
Ali Muharam adalah bukti bahwa kesuksesan harus diraih dengan kerja keras. Ketika kegagalan menghampirimu, itu adalah satu jalan menuju jalan lain yang lebih baik. Selalu belajar dari kesalahan dan memperbaikinya.
Dan kisah Ali Muharam ini sudah mulai banyak diekspos bahkan ia sendiri membuat ceritanya dalam sebuah buku berjudul Ngehe yang sangat menginspirasi.
Semoga cerita Ali Muharam ini bisa bermanfaat bagi Anda.

Anda mungkin sudah tidak asing mendengar nama Atta Halilintar ya.
Terlepas dari berita pribadinya, saya sendiri cukup kagum dengan keluarganya.
Dulu susah, kini keluarga Halilintar bisa sesukses sekarang. Bahkan sumber penghasilannya dari banyak cabang.
Keluarga yang terkenal karena bisa berpetualang keliling dunia bersama seluruh anggota keluarga tanpa asisten rumah tangga!
Jadi walaupun anggota keluarganya itu cukup banyak yakni 2 orang tua dan 11 anak, tapi saya salut dengan kerjasama antar saudara yang kompak dan saling melengkapi satu sama lain.
Sesuai dengan judul buku yang ditulis sang ibu "My Family My Team".
Keluarga ini memang kental dengan darah bisnis ya, ternyata sejak dini anak-anaknya sudah dilibatkan dalam bisnis.
"... berniaga merupakan pendidikan yang baik untuk anak-anak karena disitu mereka belajar berhitung, menulis, membaca, berkomunikasi, berhubungan, dan berperilaku" (sumber: inspiratorfreak)
Salah satu strategi memulai bisnis adalah dengan menjual produk yang kita pahami. Kuasai produk yang dijual sehingga lebih mudah memberikan pemahaman kepada pelanggan agar mereka yakin membeli produk tersebut.
Memang ya tak ada obat mujarab untuk meningkatkan bisnis selain menyukai bisnis itu sendiri.
Tanpa kesukaan dalam berbisnis, lama kelamaan menjalankannya akan jadi bosan dan alhasil tak ada ide bisnis baru dan mentok tidak ada inovasi.
Ini yang menjadi salah satu motto bisnis keluarga Gen Halilintar
"We promote, we sell what we wear, what we use, what we utilize"
Apa yang kita miliki adalah aset.
Coba kita lihat apa yang dijual oleh Atta Halilintar.
Fashion, kuliner, kue artis, percetakan, dan travel.
Produk-produk itu yang biasa dia gunakan sehingga dia tahu siapa target pasarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan bagaimana celahnya dia bisa berbisnis itu.
Sama halnya jika Anda saat ini memiliki produk misalnya sebuah platform atau tools online, kuasai sepenuhnya produk Anda agar ketika Anda promosi kepada target pasar, mereka paham apa kelebihannya dan yakin untuk menggunakannya.
Bisnis bukan hanya sekedar profit.
"A satisfied customer is the best business strategy of all" - Michael Leboeuf
Dapat profit gede pasti seneng dong, tapi ada satu hal yang bikin bahagia, yaitu ketika pelanggan puas dengan produk kita.
Contohnya saya yang selalu senyum-senyum sendiri dan bahagia kalau ada Sahabat Moota tiba-tiba balas email terus bilang "Alhamdulillah, semenjak pakai Moota jualan saya jadi makin lancar. Saya jadi ga perlu cek transferan secara manual. Sangat membantu kak, makasih ya" 🙂
Saya harap sharing materi hari ini bisa bermanfaat dan berguna untuk Anda. Dan silahkan share informasi ini kepada rekan, teman dan sahabat Anda agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak lagi dengan klik icon media sosial di bawah
Terima kasih ?
