
Pernah nggak sih, Sobat Cuan, merasa kalau bisnis yang kamu jalani bisa menghasilkan lebih banyak? Atau mungkin kamu berpikir, "Kenapa penjualan sudah bagus, tapi kok masih terasa ada yang kurang?" Nah, bisa jadi jawabannya ada di teknik penjualan yang satu ini: upselling. Yup, strategi ini bisa menjadi kunci buat membuka peluang pendapatan tambahan yang mungkin belum kamu manfaatkan sepenuhnya.

Upselling ini bukan sekadar trik dagang biasa, lho. Kalau kamu bisa menerapkannya dengan baik, nggak cuma cuan yang bertambah, tapi hubungan kamu dengan pelanggan pun bisa lebih erat. Yuk, kita bahas lebih dalam gimana upselling ini bisa nambahin keuntungan buat bisnis kamu!
Upselling adalah sebuah strategi penjualan yang cerdas, di mana penjual berusaha untuk meningkatkan nilai transaksi setiap kali terjadi interaksi dengan pelanggan. Konsepnya sederhana namun efektif: alih-alih sekadar menjual produk atau layanan yang diminta pelanggan, penjual menawarkan opsi yang lebih premium atau lengkap. Dengan kata lain, upselling adalah seni membujuk pelanggan untuk memilih opsi yang lebih baik, tanpa terasa dipaksa.
Contoh klasik upselling adalah ketika Anda membeli smartphone. Setelah Anda memilih model tertentu, penjual seringkali menawarkan paket bundling yang mencakup aksesori tambahan seperti case, screen protector, atau bahkan layanan purna jual yang lebih komprehensif. Penawaran ini dirancang untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan, sekaligus meningkatkan pendapatan penjual.
Upselling memiliki sejumlah manfaat bagi bisnis, di antaranya:
Upselling yang dilakukan dengan baik juga bisa meningkatkan loyalitas pelanggan. Ketika mereka merasa kamu benar-benar memahami kebutuhan mereka dan memberikan solusi yang tepat, besar kemungkinan mereka akan balik lagi untuk beli di tempat kamu.
Sekarang, gimana sih cara menerapkan upselling yang efektif? Berikut beberapa strategi yang bisa kamu coba:
Sebelum menawarkan upsell, pastikan kamu paham dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan. Kalau kamu menawarkan upgrade tanpa memahami kebutuhan mereka, upselling justru bisa terasa memaksa dan bikin pelanggan ilfeel. Jadi, dengarkan apa yang mereka cari, lalu tawarkan solusi yang lebih baik dengan produk atau layanan yang lebih premium.
Pelanggan biasanya lebih gampang memutuskan untuk upgrade kalau mereka bisa melihat perbandingan yang jelas antara produk dasar dan produk upgrade. Tampilkan manfaat tambahan yang mereka dapatkan dari produk yang lebih mahal, dan tunjukkan bahwa upgrade tersebut akan memenuhi kebutuhan mereka lebih baik lagi.
Jangan cuma jualan, Sobat Cuan. Edukasi pelanggan tentang manfaat dari produk atau layanan upgrade yang kamu tawarkan. Jelaskan kenapa mereka akan lebih untung atau lebih nyaman kalau memilih versi yang lebih tinggi. Misalnya, kamu bisa kasih tahu tentang fitur-fitur keamanan tambahan, garansi lebih lama, atau keunggulan teknologi yang ada di produk premium kamu.
Biar lebih kebayang, yuk kita lihat beberapa contoh penerapan upselling di berbagai industri:
Misalnya, kamu lagi makan di restoran dan pesan salad. Pelayan datang dan menawarkan tambahan topping seperti ayam atau udang dengan biaya tambahan. Ini adalah contoh upselling yang sederhana tapi efektif. Dengan menambah sedikit uang, pelanggan bisa menikmati hidangan yang lebih lengkap dan memuaskan.
Ketika pelanggan membeli paket data internet, perusahaan telekomunikasi bisa menawarkan upgrade berupa akses ke layanan streaming premium dengan harga yang lebih terjangkau. Ini adalah contoh upselling yang memberikan nilai lebih buat pelanggan tanpa mereka merasa terbebani.
Salah satu contoh paling umum dari upselling adalah upgrade kursi ke business class. Pelanggan yang awalnya membeli tiket ekonomi bisa ditawari upgrade ke kursi yang lebih nyaman dengan ruang kaki lebih luas dan layanan premium. Siapa yang nggak mau sedikit kemewahan selama penerbangan panjang, kan?
Dealer mobil juga sering menerapkan upselling dengan menawarkan fitur tambahan seperti jok kulit, sunroof, atau sistem audio premium. Walaupun pelanggan awalnya cuma mau beli mobil standar, mereka mungkin tertarik untuk menambah fitur-fitur tersebut demi kenyamanan berkendara yang lebih baik.
Contoh lainnya adalah aplikasi Grammarly. Versi gratisnya sudah cukup membantu untuk mengoreksi teks, tapi Grammarly juga menawarkan versi premium dengan fitur yang lebih lengkap seperti pengecekan gaya bahasa dan penulisan yang lebih mendalam. Ini adalah contoh upselling yang efektif di industri teknologi.
Di restoran cepat saji, seperti KFC, upselling juga sering terjadi. Misalnya, saat kamu pesan burger, mereka menawarkan tambahan keju, tomat, atau selada dengan sedikit biaya tambahan. Ini adalah cara sederhana untuk meningkatkan nilai pesanan tanpa harus memaksa pelanggan.
Supaya upselling kamu berhasil, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan:
Timing itu penting, Sobat Cuan. Jangan tawarkan upgrade terlalu awal atau terlalu terlambat. Misalnya, di restoran, tawarkan upsell saat pelanggan sudah memilih hidangan utama, tapi belum selesai memesan. Di e-commerce, kamu bisa menawarkan upselling saat pelanggan sudah menambahkan produk ke keranjang, tapi belum checkout.
Upselling yang baik adalah yang terasa natural dan relevan. Jangan terlalu memaksa pelanggan untuk upgrade, karena ini bisa membuat mereka merasa tidak nyaman dan malah meninggalkan pembelian.
Jangan cuma fokus pada harga yang lebih tinggi. Fokuslah pada nilai tambahan yang pelanggan dapatkan dari produk atau layanan yang lebih premium. Jika mereka merasa mendapatkan manfaat yang sepadan dengan harga, mereka lebih mungkin untuk melakukan upgrade.
Jadi, Sobat Cuan, upselling ini bukan cuma soal menambah penjualan, tapi juga soal memberikan pengalaman yang lebih baik buat pelanggan. Dengan menawarkan produk atau layanan yang lebih premium, kamu bisa meningkatkan pendapatan bisnis sekaligus menjaga loyalitas pelanggan.
Ingat, kunci dari upselling yang sukses adalah memahami kebutuhan pelanggan dan menawarkan solusi yang tepat pada waktu yang tepat. Dengan menerapkan teknik ini, kamu bisa membawa bisnis kamu ke level yang lebih tinggi tanpa harus menambah biaya promosi yang besar.
Semoga tips ini bisa membantu kamu dalam menjalankan strategi upselling yang efektif, ketika kita menghargai dan memahami kebutuhan pelanggan, mereka cenderung menjadi pelanggan setia. Jangan lupa untuk cek mutasi bank Anda dengan Moota Selamat mencoba, Sobat Cuan!

Menentukan Fee Admin sering jadi dilema pelaku jualan online. Kita ingin menutup biaya operasional tanpa membuat pelanggan kabur. Anda mungkin bertanya, berapa persen yang wajar? Apakah perlu dipajang di halaman produk atau disamarkan ke harga akhir? Di artikel ini kita akan ngobrol santai tapi praktis soal bagaimana cara menetapkan fee admin yang adil, transparan, dan mendukung kelangsungan usaha kecil Anda.

Ketika kita bicara tentang Menentukan Fee Admin, yang dimaksud adalah proses menghitung dan menetapkan biaya tambahan yang ditanggung pembeli atau penjual untuk menutup biaya transaksi, layanan platform, atau administrasi operasional. Fee ini bisa berbentuk biaya transfer bank, potongan marketplace, biaya payment gateway, atau biaya internal untuk manajemen pesanan. Tujuannya bukan untuk “menambah beban” pelanggan, melainkan agar bisnis tetap sehat secara finansial tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Alasan utama mengapa Menentukan Fee Admin penting adalah karena biaya-biaya kecil sehari-hari bisa menumpuk dan menggerus margin keuntungan. Kita sering fokus pada harga pokok dan margin, tapi lupa memasukkan biaya administrasi yang realistis. Tanpa memperhitungkannya, Anda mungkin merasa penjualan meningkat tetapi kas perusahaan tidak bertambah secara signifikan. Fee yang terhitung membantu Anda menjaga arus kas, menutup biaya operasional, dan tetap menyediakan layanan yang baik kepada pelanggan.
Semua pelaku usaha online, mulai dari pemilik toko kecil hingga penjual di marketplace, perlu paham soal Menentukan Fee Admin. Bukan hanya pemilik, tetapi juga tim keuangan, customer service, dan orang yang menangani checkout harus mengerti bagaimana struktur biaya ini bekerja. Dengan begitu, komunikasi ke pelanggan jadi konsisten dan perhitungan internal tidak meleset.
Waktu yang tepat untuk mulai Menentukan Fee Admin adalah sejak Anda mulai memiliki transaksi berulang dan pengeluaran operasional yang stabil. Di tahap awal, mungkin Anda bisa menahan fee demi penetrasi pasar—tapi itu harus keputusan yang sadar dan terbatas waktu. Saat omzet mulai konsisten dan biaya administrasi terasa nyata, saat itulah kita perlu menghitung dan menetapkan fee yang realistis agar bisnis tidak kehilangan modal.
Praktik Menentukan Fee Admin diterapkan di berbagai titik: pada halaman checkout, di nota pembayaran, dalam syarat & ketentuan, atau bahkan disematkan ke harga produk (bundling). Pilihan di mana menampilkannya bergantung pada strategi bisnis Anda dan preferensi pelanggan. Menyatakan fee secara transparan di checkout biasanya meningkatkan kepercayaan, sementara menggabungkan biaya ke harga bisa menyederhanakan pengalaman belanja — tapi perlu hati-hati agar harga tetap kompetitif.
Pertama, hitung semua biaya langsung yang terkait transaksi: biaya transfer bank, potongan marketplace, biaya payment gateway, dan biaya admin internal seperti packing atau verifikasi. Jangan lupa memperhitungkan biaya tidak langsung seperti waktu pegawai yang memproses pesanan. Setelah itu, tetapkan margin aman agar bisnis tetap ada ruang untuk keuntungan setelah menutup semua biaya.
Kedua, tentukan model penempatan fee. Kita punya dua pilihan utama: menampilkan fee sebagai biaya tambahan saat checkout, atau menyisipkannya ke dalam harga barang. Menampilkan fee transparan bagus untuk pelanggan yang menghargai keterbukaan. Menyisipkannya ke harga lebih rapi tampak di storefront, tapi Anda harus memperhitungkan psikologi harga agar produk tetap kompetitif.
Ketiga, uji respons pelanggan. Cobalah skenario A/B kecil: beberapa minggu tampilkan fee terpisah, beberapa minggu gabungkan ke harga. Amati tingkat konversi dan komplain pelanggan. Data ini akan membantu Anda memutuskan mana yang paling sesuai untuk segmen pasar Anda.
Keempat, komunikasikan alasan biaya tersebut. Ketika kita transparan dan menjelaskan bahwa fee dipakai untuk mempercepat pengiriman atau menjaga kualitas layanan, pelanggan cenderung mengerti. Komunikasi yang jujur membantu menjaga loyalitas dan mengurangi resistensi terhadap biaya tambahan.
Kelima, siapkan kebijakan pengecualian. Untuk order besar, pelanggan VIP, atau campaign khusus, Anda bisa menawarkan bebas fee atau diskon admin. Ini fleksibilitas yang menunjukkan bahwa fee bukan semata-mata cara “mengambil untung tambahan”, melainkan bagian dari manajemen bisnis yang adil.
Bayangkan produk Anda dijual Rp100.000. Marketplace memotong 5% dan payment gateway 2%, serta biaya packing Rp5.000. Total biaya non-pokok adalah Rp5.000 (packing) + Rp7.000 (7% dari Rp100.000) = Rp12.000. Jika Anda ingin margin bersih minimal 10% dari Rp100.000 (Rp10.000), maka harga jual efektif harus menutup Rp100.000 + Rp12.000 + Rp10.000 = Rp122.000. Dari situ Anda bisa memilih apakah menampilkan Rp122.000 di etalase atau tetap tampilkan Rp100.000 dan tambahkan fee Rp22.000 di checkout. Pilihan ini akan berdampak pada persepsi pelanggan dan tingkat konversi.
Banyak pelaku usaha membuat kesalahan saat Menentukan Fee Admin. Pertama, menyepelekan biaya kecil seperti biaya admin bank atau biaya penanganan yang ternyata sering muncul. Kedua, tidak mengevaluasi fee secara berkala—padahal struktur biaya bisa berubah sesuai kebijakan marketplace atau provider. Ketiga, komunikasi yang buruk ke pelanggan; fee yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan sering memicu komplain dan pembatalan.
Mulailah dengan pencatatan yang rapi, catat semua komponen biaya per transaksi, dan hitung frekuensi biaya terjadi. Gunakan data itu untuk menentukan angka yang realistis. Selanjutnya, putuskan strategi tampilan fee yang paling sesuai dengan profil pelanggan Anda. Terakhir, lakukan evaluasi rutin setiap kuartal agar fee tetap relevan terhadap kondisi biaya riil.
Menentukan Fee Admin bukan sekadar masalah menghitung biaya tambahan, melainkan bagian dari strategi menjaga kesehatan bisnis. Dengan perhitungan yang teliti, komunikasi yang jujur, dan evaluasi berkala, Anda bisa menutup biaya operasional tanpa kehilangan kepercayaan pelanggan. Ingat, kita ingin bisnis tetap menguntungkan dan pelanggan tetap merasa mendapat nilai bagus dari setiap transaksi.
Kalau Anda mau, saya bisa bantu bikin template perhitungan fee admin di Excel atau contoh teks komunikasi fee untuk halaman checkout toko Anda.

Bismillah.
Moota menyampaikan pembaruan terkait layanan integrasi IBBIZ BRI. Saat ini layanan IBBIZ BRI telah kembali beroperasi normal. Seiring dengan normalisasi tersebut, pihak bank memberlakukan pembaruan pada metode login iBanking yang memerlukan penyesuaian pada sistem Moota untuk menjaga kualitas layanan.

Berdasarkan kebijakan terbaru dari pihak bank, proses login iBanking IBBIZ BRI kini menggunakan verifikasi One-Time Password (OTP) yang dikirimkan ke nomor telepon terdaftar. Perubahan ini memengaruhi alur autentikasi otomatis dan memerlukan adaptasi teknis agar proses sinkronisasi berjalan andal dan aman.
Tim engineering Moota telah melakukan pembaruan teknis, antara lain penyesuaian alur autentikasi berbasis OTP, peningkatan sistem monitoring, serta penambahan kapasitas resource operasional. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas, keamanan, dan keberlanjutan proses sinkronisasi data IBBIZ BRI sesuai pembaruan dari pihak bank.
Sejalan dengan penyesuaian teknis dan kebutuhan resource tambahan, Moota menyesuaikan biaya layanan IBBIZ BRI dari sebelumnya Rp1.500 per hari menjadi Rp150.000 per bulan. Penyesuaian ini dirancang agar operasional layanan tetap optimal dan layanan menjadi lebih sederhana serta prediktabel bagi pengguna.
Agar transisi berjalan lancar, berikut ketentuan yang berlaku terkait perpindahan ke model harga baru:
Pemberitahuan ini disampaikan terlebih dahulu sebagai informasi. Penerapan harga baru akan mulai berlaku pada Tanggal 5 Februari 2026 pukul 00:00 WIB. Mohon lakukan pengecekan akun atau hubungi tim kami apabila ada kebutuhan khusus sebelum tanggal tersebut.
Untuk memudahkan aktivasi dan penggunaan layanan IBBIZ BRI, berikut panduan ringkas:
Moota berkomitmen menjaga kualitas dan keandalan layanan agar data mutasi bank pengguna tersinkronisasi secara akurat. Tim support dan account manager kami siap membantu apabila Anda membutuhkan panduan aktivasi, penjelasan detil, atau opsi penyesuaian langganan.
Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada Moota. Untuk informasi lebih lanjut atau bantuan, silakan menghubungi melalui fitur chat di aplikasi atau tim account manager Anda.

Strategi Penetapan Harga menjadi kunci penting ketika Anda menjual produk musiman. Produk jenis ini punya pola permintaan yang naik turun. Jika harga tidak diatur dengan tepat, keuntungan bisa bocor tanpa disadari. Karena itu, Kita perlu pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan dengan produk yang reguler.

Produk musiman tidak hanya soal momen ramai. Ada fase sepi yang juga harus dipikirkan. Artikel ini akan membantu Anda memahami cara mengatur harga agar bisnis tetap sehat sepanjang musim.
Produk musiman adalah produk yang permintaannya bergantung pada waktu tertentu. Contohnya produk Ramadan, perlengkapan sekolah, atau barang liburan. Permintaan bisa melonjak tajam lalu turun drastis.
Karena sifatnya seperti ini, perlakuan harga tidak bisa disamakan dengan produk harian. Kita perlu menyesuaikan harga dengan siklus permintaan. Tujuannya agar stok habis tepat waktu dan margin tetap aman.
Harga menentukan kecepatan penjualan dan besar keuntungan. Jika harga terlalu rendah di awal, potensi laba hilang. Jika terlalu tinggi di akhir musim, stok bisa menumpuk.
Strategi yang tepat membantu Kita memaksimalkan momen puncak. Di saat yang sama, strategi ini juga melindungi bisnis saat permintaan menurun. Keseimbangan inilah yang dicari.
Pemilik usaha, pengelola toko, dan tim pemasaran perlu memahaminya. UMKM hingga bisnis menengah sering bergantung pada momen musiman. Kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Bahkan penjual online skala kecil tetap perlu strategi ini. Dengan pemahaman dasar, keputusan harga jadi lebih terarah. Usaha pun lebih siap menghadapi perubahan pasar.
Waktu terbaik adalah sebelum musim dimulai. Jangan menunggu permintaan melonjak baru menentukan harga. Persiapan awal memberi ruang untuk simulasi dan evaluasi.
Dengan persiapan matang, Kita tidak reaktif. Harga sudah dirancang sesuai target dan kondisi pasar. Ini membuat keputusan lebih tenang saat musim berjalan.
Strategi ini sangat berpengaruh di pasar dengan persaingan tinggi. Marketplace dan toko online adalah contoh yang jelas. Perubahan harga kecil bisa langsung memengaruhi penjualan.
Di toko fisik, pengaruhnya juga terasa. Harga yang tepat menarik pembeli tanpa mengorbankan margin. Karena itu, strategi perlu disesuaikan dengan kanal penjualan.
Langkah awal adalah menentukan tujuan. Apakah Anda ingin margin tinggi di awal musim atau perputaran cepat di akhir. Tujuan ini menjadi arah semua keputusan harga.
Tanpa tujuan, harga mudah berubah karena emosi. Dengan tujuan jelas, Kita lebih konsisten. Keputusan pun terasa lebih logis.
Setiap produk punya pola sendiri. Ada yang ramai di awal, ada yang di tengah musim. Data penjualan tahun lalu sangat membantu.
Dengan memahami pola, Kita bisa mengatur kenaikan dan penurunan harga. Harga tidak lagi ditebak, tetapi direncanakan. Ini membuat bisnis lebih siap.
Musim biasanya terbagi dalam fase awal, puncak, dan akhir. Di fase awal, harga bisa lebih tinggi karena antusiasme. Ketika di puncak, fokus pada volume dan stabilitas.
Di akhir musim, penyesuaian harga sering dibutuhkan. Tujuannya menghabiskan stok tanpa merusak margin keseluruhan. Setiap fase butuh pendekatan berbeda.
Produk musiman punya risiko stok tidak terjual. Biaya penyimpanan dan modal harus diperhitungkan. Harga harus menutup risiko ini.
Jika stok berisiko tinggi, margin awal perlu lebih kuat. Ini memberi bantalan saat diskon akhir musim. Dengan begitu, bisnis tetap aman.
Harga pesaing tidak bisa diabaikan. Namun, mengikuti harga pasar secara buta juga berbahaya. Kita perlu tahu posisi produk sendiri.
Jika nilai produk lebih tinggi, harga bisa sedikit di atas pasar. Jika bersaing di volume, harga perlu lebih kompetitif. Penyesuaian ini harus sadar dan terukur.
Diskon sering dipakai di produk musiman. Namun, diskon tanpa perhitungan bisa merusak margin. Diskon harus punya tujuan jelas.
Diskon bisa dipakai untuk mempercepat perputaran stok. Bisa juga untuk menarik pelanggan baru. Yang penting, dampaknya sudah dihitung sejak awal.
Psikologi harga berperan besar di musim tertentu. Harga bundling atau paket sering lebih menarik. Pembeli merasa mendapat nilai lebih.
Pendekatan ini membantu meningkatkan nilai transaksi. Kita tidak hanya menjual murah, tetapi menjual lebih cerdas. Hasilnya, omzet dan margin bisa seimbang.
Kesalahan paling umum adalah menunda keputusan. Banyak bisnis menunggu melihat pasar baru bertindak. Akibatnya, momentum terlewat.
Kesalahan lain adalah terlalu sering mengubah harga. Perubahan tanpa arah membuat pelanggan bingung. Kepercayaan pun bisa menurun.
Data penjualan adalah dasar keputusan. Data menunjukkan pola, bukan asumsi. Dengan data, Kita tahu kapan harga bekerja dan kapan tidak.
Tanpa data, strategi hanya tebakan. Dengan data, strategi menjadi rencana. Inilah pembeda antara bisnis reaktif dan bisnis siap.
Evaluasi perlu dilakukan selama musim berjalan. Jangan menunggu musim berakhir. Perubahan pasar bisa terjadi cepat.
Evaluasi rutin membantu penyesuaian kecil. Penyesuaian kecil lebih aman daripada perubahan besar. Ini menjaga stabilitas penjualan.
Harga memengaruhi arus kas secara langsung. Kalau Harga terlalu tinggi bisa memperlambat penjualan. Dan apabila Harga terlalu rendah bisa menguras modal.
Strategi harga harus sejalan dengan kondisi kas. Kita perlu memastikan arus kas tetap sehat. Dengan begitu, operasional tidak terganggu.
Margin dijaga dengan perencanaan sejak awal. Hitung semua biaya dan risiko. Tentukan margin minimum yang tidak boleh dilanggar.
Saat diskon, pastikan masih di atas batas aman. Disiplin ini melindungi bisnis dari kerugian. Margin yang terjaga memberi ruang bernapas.
Strategi Penetapan Harga untuk produk musiman membantu bisnis memaksimalkan peluang dan meminimalkan risiko. Harga tidak ditentukan secara spontan, tetapi direncanakan. Dengan pendekatan yang tepat, musim ramai bisa memberi hasil maksimal.
Mulailah dari tujuan yang jelas dan data yang ada. Sesuaikan harga dengan fase musim dan kondisi pasar. Dengan strategi yang rapi, produk musiman bisa menjadi sumber keuntungan yang sehat dan berkelanjutan.
