Dalam dunia bisnis, PPN (Pajak Pertambahan Nilai) adalah sesuatu yang pasti Sobat sering dengar. Tapi, bagaimana sih cara menghitung PPN yang benar? Nah, artikel ini bakal ngobrol santai dengan Anda tentang langkah-langkah menghitung PPN, dan pastinya dalam bahasa yang mudah dipahami.
Pahami cara hitung PPN dengan mudah dan praktis! Panduan lengkap tentang perhitungan PPN 11%, PPN Masukan, dan Keluaran, serta tips bisnis untuk pemula. Yuk, langsung aja kita bahas!
PPN adalah pajak yang dikenakan atas setiap transaksi barang dan jasa yang dilakukan di Indonesia. Saat Anda beli sesuatu di toko, biasanya sudah termasuk PPN 11%. Pajak ini dikenakan baik untuk produk fisik maupun digital. Jadi, sebagai pebisnis atau konsumen, penting banget untuk ngerti cara hitung PPN ini. Kenapa penting? Karena memahami PPN membantu Anda mengelola keuangan bisnis dengan lebih baik dan terhindar dari masalah pajak.
Selain itu, PPN merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Jadi, dengan membayar PPN, secara tidak langsung Anda juga berkontribusi pada pembangunan negeri. Menarik, kan?
Untuk menghitung PPN, rumus dasarnya cukup simpel:
Harga Barang/Jasa × Tarif PPN
Saat ini, tarif PPN di Indonesia adalah 11%. Misalnya, jika Anda membeli barang senilai Rp1.000.000, maka perhitungan PPN-nya adalah:
1.000.000 × 11% = 110.000
Total yang harus dibayar adalah harga barang ditambah PPN:
1.000.000 + 110.000 = 1.110.000
Tapi, bagaimana jika tarif PPN berubah? Misalnya, di masa depan ada penyesuaian tarif. Prinsip perhitungannya tetap sama, hanya tinggal mengganti persentase tarif saja. Maka dari itu, Sobat harus selalu update informasi pajak, ya!
Biar makin paham, yuk kita lihat contoh lainnya. Bayangkan Anda adalah pemilik toko online yang menjual produk senilai Rp500.000. Berikut langkah-langkah perhitungannya:
Gampang kan? Nah, kalau Sobat menggunakan layanan seperti Moota untuk melacak pembayaran dari pelanggan, Anda bisa lebih mudah memastikan bahwa total pembayaran sudah termasuk PPN. Ini sangat penting agar bisnis Anda tetap transparan dan akurat dalam pengelolaan keuangan.
Dalam bisnis, ada dua jenis PPN yang perlu Sobat ketahui: PPN Masukan dan PPN Keluaran.
Penting untuk memahami dua konsep ini karena perhitungan PPN yang harus dibayar ke negara adalah selisih antara PPN Keluaran dan PPN Masukan. Jika PPN Masukan lebih besar dari PPN Keluaran, Anda bisa mendapatkan restitusi pajak. Menarik, bukan?
Untuk menghitung PPN yang harus disetor ke negara, gunakan rumus berikut:
PPN Keluaran - PPN Masukan
Misalnya, selama satu bulan, bisnis Anda mengumpulkan PPN Keluaran sebesar Rp1.000.000 dan membayar PPN Masukan sebesar Rp600.000. Maka, PPN yang harus Anda bayar adalah:
1.000.000 - 600.000 = 400.000
Jadi, jumlah Rp400.000 inilah yang harus disetorkan ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Proses ini dikenal dengan istilah "pajak yang dibayar terutang." Jangan sampai keliru, ya!
Dengan sistem yang tertata rapi, proses ini bisa berjalan lancar. Gunakan software akuntansi atau aplikasi keuangan seperti Moota untuk mempermudah pencatatan transaksi. Tidak hanya hemat waktu, tapi juga mengurangi risiko kesalahan perhitungan.
Telat bayar pajak? Tenang, tapi jangan sampai kebiasaan ya. Keterlambatan pembayaran PPN bisa kena denda sebesar 2% per bulan dari jumlah pajak yang belum dibayar. Jadi, lebih baik bayar tepat waktu deh! Jangan sampai keterlambatan ini menambah beban keuangan bisnis Anda.
Selain denda, ada juga sanksi administratif yang bisa merugikan bisnis. Makanya, penting banget buat Sobat memastikan semua pembayaran pajak dilakukan sesuai jadwal. Dengan fitur notifikasi dari Moota, Anda bisa mendapatkan pengingat otomatis setiap kali ada pembayaran masuk atau keluar. Praktis, kan?
Buat Sobat pelaku UMKM, ada kabar baik! Jika omzet Anda di bawah Rp4,8 miliar per tahun, Anda bisa memilih untuk menggunakan skema PPh Final 0,5% daripada PPN. Tapi, kalau omzet sudah lebih dari itu, wajib deh ikut aturan PPN.
Namun, tetap penting untuk memantau omzet bisnis. Jika mendekati batas tersebut, persiapkan diri untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Ini akan memudahkan proses transisi dan menghindari sanksi pajak.
Era digital saat ini membawa banyak perubahan, termasuk dalam dunia perpajakan. Transaksi digital seperti pembelian software, layanan streaming, atau produk digital lainnya juga dikenakan PPN. Nah, Sobat yang punya bisnis digital harus tahu cara menghitung dan melaporkan PPN ini. Prinsip dasarnya sama, hanya saja penerapannya sedikit berbeda karena melibatkan transaksi online.
1. Berapa tarif PPN saat ini?
Tarif PPN di Indonesia saat ini adalah 11%.
2. Apakah semua produk kena PPN?
Tidak semua produk kena PPN. Beberapa barang seperti sembako dan jasa kesehatan dibebaskan dari PPN.
3. Bagaimana cara lapor PPN?
Lapor PPN dilakukan melalui e-Faktur di situs DJP Online. Anda perlu mengunggah faktur pajak dan mengisi laporan sesuai dengan transaksi bisnis.
4. Apa itu Faktur Pajak?
Faktur Pajak adalah bukti pungutan PPN yang dibuat oleh PKP (Pengusaha Kena Pajak) saat menjual barang atau jasa.
5. Bagaimana cara menghitung PPN 11% dengan mudah?
Kalikan harga barang/jasa dengan 0,11. Misalnya, Rp1.000.000 × 0,11 = Rp110.000.
Menghitung PPN sebenarnya nggak sulit, asal Sobat tahu rumus dasarnya dan rajin mencatat transaksi. Dengan pemahaman yang baik tentang PPN, bisnis Anda bisa lebih terorganisir dan terhindar dari masalah pajak. Kalau masih bingung soal pembayaran masuk dan keluar, Moota bisa jadi solusi praktis buat monitoring transaksi bisnis Anda. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!
Moota mengundang Anda yang masih mengandalkan integrasi API V1 untuk pengiriman data mutasi—termasuk konfirmasi otomatis dan sinkronisasi mutasi—untuk segera beralih ke API V2. Versi terbaru ini sudah teruji stabilitasnya, minim gangguan, dan siap mendukung kebutuhan pengiriman data mutasi via API dengan kecepatan optimal. Dengan lebih banyak pengguna beralih, API V2 kini menjadi fondasi otomasi keuangan yang ditunggu-tunggu untuk menunjang pertumbuhan dan kelancaran operasional bisnis Anda.
Application Programming Interface (API) adalah semacam “jembatan” digital yang menghubungkan sistem Moota dengan aplikasi bisnis Anda. Bayangkan API sebagai jalur tertutup yang memungkinkan data mutasi—baik dari bank transfer maupun virtual account—mengalir langsung ke sistem Anda tanpa campur tangan manual. Tanpa API, tim finance harus menarik laporan mutasi satu per satu, memindai file CSV, atau mengecek email konfirmasi pembayaran secara manual. Tentu saja, itu memakan waktu dan rentan kesalahan, seperti keliru memasukkan data atau melewatkan transaksi penting.
Sejak awal, Moota memperkenalkan API V1 sebagai solusi integrasi. Meski revolusioner di masanya, API V1 mulai menunjukkan keterbatasan ketika volume transaksi dan kompleksitas integrasi meningkat. Banyak pengguna merasakan delay pengiriman data mutasi, gangguan saat beban puncak, atau bahkan kegagalan pengiriman. Dalam ekosistem finansial yang serba cepat, jeda sekecil apa pun bisa berdampak pada arus kas, konfirmasi order, dan kepuasan pelanggan.
Untuk menjawab tantangan ini, Moota merilis API V2. Versi ini adalah perombakan arsitektur backend yang dirancang khusus untuk menghadirkan performa tinggi serta meminimalkan down-time dan risiko kehilangan data.
API V2 mengurangi delay hingga hitungan detik. Anda akan menerima data mutasi segera setelah transaksi tercatat, sehingga proses konfirmasi pembayaran dan rekonsiliasi berjalan mulus.
API V2 dibangun di atas platform yang dioptimasi untuk skala besar. Dengan load balancing dan sistem failover otomatis, gangguan pada satu titik tidak akan menghentikan aliran data. Bahkan saat terjadi lonjakan transaksi—seperti flash sale—API V2 menjaga kestabilan koneksi.
Kegagalan koneksi atau timeout bukan lagi momok. API V2 secara otomatis mencoba mengirim ulang data mutasi hingga sukses, tanpa perlu skrip tambahan atau monitoring manual.
Semua payload API V2 dienkripsi dengan protokol TLS terbaru, melindungi informasi transaksi saat transit. Setiap panggilan API juga dicatat secara terperinci—mulai timestamp, status response, hingga payload—yang dapat diakses di dashboard untuk audit, debugging, atau pelaporan.
Tim support Moota memfokuskan diri pada pengembangan dan pemeliharaan API V2. Anda akan mendapatkan respons lebih cepat dari spesialis yang memahami Webhook, RESTful API, dan best practice integrasi.
API V2 bukan hanya fitur baru, melainkan fondasi stabilitas dan efisiensi operasional bagi bisnis Anda. Dengan pengiriman real-time, retry otomatis, dan enkripsi terbaru, API V2 memastikan data keuangan selalu akurat dan aman. Migrasi cepat, dukungan teknis fokus, serta dokumentasi lengkap memudahkan Anda beralih tanpa gangguan besar.
Pastikan alur data mutasi bisnis Anda selalu aktif, cepat, dan aman dengan API V2 dari Moota. Terima kasih atas kepercayaan Anda
#MootaAPIV2 #UpgradeAPI #FinTechIntegrasi #DataMutasiRealTime
Pernah nggak sih, kita kebingungan sendiri saat cek mutasi pembayaran dari bank, payment gateway, atau virtual account secara manual setiap hari? Kalau iya, webhook Moota ini bisa jadi solusi tepat untuk mempercepat dan memudahkan semua update transaksi Anda. Dengan webhook Moota, setiap kali ada transaksi baru, sistem bisa otomatis menerima data tanpa perlu refresh atau menunggu laporan mutasi bank. Layanan ini membantu tim finance, toko online, hingga startup digital agar bisa langsung mengupdate status pembayaran di aplikasi tanpa harus melakukan input data manual. Namun, di balik kemudahan ini, ada juga beberapa best practice yang wajib dilakukan agar sistem tetap andal, aman, dan tidak ada error saat menerima banyak transaksi sekaligus.
Jadi, sebelum menjalankan webhook ke proses bisnis Anda, yuk, kita pahami dulu kenapa penggunaan async pada webhook Moota itu penting, dan bagaimana langkah-langkah mengimplementasinya tanpa ribet!
Webhook Moota adalah solusi cerdas untuk mengotomasi update transaksi bisnis. Setiap ada transaksi baru di bank, virtual account, atau payment gateway, Moota langsung memberikan notifikasi ke sistem Anda secara real time.
Tapi, banyak yang belum tahu: proses webhook sebaiknya dijalankan secara asynchronous (async), bukan langsung di-handle ke proses bisnis utama. Ini penting agar sistem tetap stabil dan transaksi Anda benar-benar aman.
https://domainanda.com/webhook/moota
).Nah, pertanyaannya: kenapa datanya nggak langsung diproses saja pas webhook diterima? Ada beberapa alasan kuat mengapa async jadi pilihan terbaik:
Webhook dari Moota harus direspons secepat mungkin, idealnya kurang dari 5 detik. Jika proses bisnis (misal: update order, generate invoice, kirim email) dilakukan langsung dalam endpoint webhook, sistem Anda bisa mengalami timeout. Akibatnya, Moota akan menganggap request gagal dan bisa mengirim ulang data yang sama (duplikat).
Kalau proses bisnis yang langsung, ada resiko:
Dengan async, data diterima lalu diproses di background oleh worker terpisah sehingga error bisa diisolasi tanpa ganggu data lain.
Async bikin sistem Anda lebih scalable. Kalau transaksi harian mulai ratusan sampai ribuan, worker bisa dengan mudah dibuat paralel atau diatur antrian, tanpa membuat endpoint webhook jadi bottleneck.
Dengan menyimpan data webhook ke database/queue lebih dulu, Anda bisa melakukan pengecekan:
Perhatikan baik-baik, hanya izinkan request dari Moota dengan whitelist IP:
103.236.201.178
Langkah ini bisa Anda lakukan pada pengaturan firewall/VPS/server agar webhook hanya diterima dari alamat IP resmi Moota.
Di dashboard webhook, peringatannya sangat jelas:
Pastikan whitelist IP 103.236.201.178 untuk transaksi aman dengan Moota, dan tidak menerima dari yang lain, Terima kasih!
Cukup mudah, masuk ke integrasi > webhook pada dashboard Moota, lalu klik “Tambah Webhook”.
Pilih akun bank, VA, atau payment gateway yang ingin Anda hubungkan.
Masukkan URL endpoint webhook, serta secret token untuk keamanan signature.
Di bagian ini, Anda bisa menentukan akun, tipe transaksi, kode unik, hingga memasukkan secret token khusus untuk validasi signature webhook.
Setiap kali terjadi transaksi baru, Moota akan mengirimkan data ke endpoint webhook yang Anda daftarkan dengan metode POST.
Contoh payload JSON yang dikirim:
json
[{"account_number": "12312412312","date": "2019-11-10 14:33:01","description":"TRSF E-BANKING ...", "amount": 50000,...}]
Header request juga mengandung signature dan data identitas dari Moota yang wajib diverifikasi.
Pada setiap request webhook, Moota mengirim header “Signature” yang dapat divalidasi menggunakan secret token milik Anda.
Cara validasinya:
php
$signature = hash_hmac('sha256', $payload_json, $secret); // Cocokan hasil signature ini dengan value 'Signature' di header
Jangan pernah lewatkan tahap ini – signature memastikan data benar-benar dari Moota, bukan pihak lain.
Best practice-nya adalah:
Contoh sederhana di PHP Laravel:
php
public function handle(Request $request) { // Simpan payload WebhookQueue::create([ 'payload' => json_encode($request->all()), 'signature' => $request->header('Signature') ]); // Langsung balas OK ke Moota return response()->json(['status' => 'received'], 200); } // Worker: proses data dari queue public function processQueue() { foreach(WebhookQueue::pending() as $webhook) { // Validasi, update order, dsb } }
Moota menyediakan fitur Sandbox yang memungkinkan Anda mencoba webhook tanpa mengganggu sistem produksi. Coba dari menu “Virtual Account Sandbox” pada dashboard.
Dengan menerapkan teknik asynchronous pada webhook Moota, kita bisa memastikan semua transaksi berjalan tanpa hambatan, sistem anti-jebol saat traffik naik, dan yang terpenting: bisnis Anda jauh lebih aman dari error dan duplikasi data.
Jika ingin tutorial step-by-step sekaligus penjelasan teknis yang lebih rinci, Anda bisa cek langsung halaman panduan lengkap di website Moota.
Atau, butuh inspirasi best practice lain? Jangan ragu baca juga artikel tips otomatisasi transaksi di Moota.co.
Yuk, optimalkan integrasi bisnis Anda bersama Moota! Kita pastikan bisnis semakin otomatis, anti-ribet, dan siap scale ke level berikutnya.
Artikel ini membahas: webhook Moota, cara penggunaan webhook Moota, best practice async webhook, tips mengamankan webhook Moota.
Bandung, 22 Juli 2025 – Pernah merasa penasaran dengan teknologi keuangan digital Moota, tapi ragu untuk langsung terjun karena takut salah langkah? Moota kini menghadirkan solusi yang ramah dan inklusif: Account Sandbox. Fitur ini diciptakan sebagai ruang bermain dan belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat cara kerja Moota, tanpa risiko kehilangan uang atau data penting.
Banyak pelaku bisnis, mahasiswa, hingga profesional muda yang ingin mencoba layanan keuangan digital, namun sering kali terhambat oleh kekhawatiran akan keamanan dan kerumitan sistem. Moota mendengar keresahan ini dari para pengguna dan calon pengguna. “Kami sering menerima pertanyaan dari calon merchant yang ingin mencoba Moota, tapi masih ragu untuk langsung menghubungkan akun asli mereka. Dari situlah ide Account Sandbox lahir,” ujar Rezza Kurniawan, CEO dari Moota.
Account Sandbox menawarkan dua tipe akun demo yang bisa dipilih sesuai kebutuhan eksplorasi:
Bayangkan seorang pemilik toko online bernama Dita. Ia ingin tahu bagaimana Moota bisa membantu bisnisnya, tapi belum siap menghubungkan rekening asli. Dengan Account Sandbox, Dita bisa mencoba membuat transaksi, mengecek laporan keuangan, dan menguji integrasi pembayaran digital. Semua dilakukan dalam lingkungan yang aman, tanpa rasa khawatir.
Begitu juga dengan tim keuangan di sebuah kampus yang ingin melatih stafnya. Mereka dapat menggunakan Account Sandbox untuk pelatihan internal, mengajarkan proses pencatatan dan rekonsiliasi keuangan secara real-time, tanpa risiko data atau dana.
Berikut langkah-langkah sederhana untuk mencoba fitur ini:
Langkah | Penjelasan |
---|---|
1 | Login ke dashboard Moota. |
2 | Pilih opsi untuk menambahkan akun baru. |
3 | Pilih tipe akun Sandbox (Bank Transfer atau Virtual Account). |
4 | Tambahkan akun sandbox sesuai kebutuhan demo Anda. Tidak perlu memiliki poin, berbeda dengan penambahan akun Internet Banking atau Payment Gateway. |
5 | Lakukan simulasi transaksi, eksplorasi fitur, dan analisis hasil transaksi secara bebas. |
Catatan: Proses penambahan akun sandbox sangat mudah dan terbuka untuk siapa saja. Tidak ada syarat poin atau biaya tambahan, karena fitur ini memang dirancang untuk demo dan edukasi.
“Awalnya saya ragu untuk mencoba Moota karena takut salah klik atau data keuangan saya bocor. Tapi setelah coba Account Sandbox, saya jadi lebih percaya diri dan akhirnya berani mengintegrasikan akun asli ke sistem Moota,” cerita Dini, pemilik toko online di Bandung.
Moota selalu menempatkan keamanan dan kenyamanan pengguna sebagai prioritas utama. Seluruh data pada Account Sandbox terisolasi dari sistem produksi, sehingga tidak akan mempengaruhi data asli pengguna. Selain itu, Moota terus berinovasi dengan menambah fitur-fitur baru yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti integrasi payment gateway, QRIS, dan e-wallet, demi mendukung pertumbuhan bisnis digital di Indonesia.
Dengan hadirnya Account Sandbox, Moota mengajak seluruh calon pengguna, pelaku bisnis, dan institusi untuk berani mencoba dan berinovasi dalam pengelolaan keuangan digital. Fitur ini bukan hanya sekadar demo, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih baik tentang teknologi finansial yang aman, efisien, dan terintegrasi.
Untuk informasi lebih lanjut dan aktivasi Account Sandbox, silakan kunjungi website resmi Moota atau hubungi tim support kami.
Tentang Moota
Moota adalah platform manajemen keuangan digital yang telah dipercaya ribuan pengguna di Indonesia. Dengan fitur-fitur inovatif seperti auto cek mutasi, integrasi payment gateway, dan dashboard analitik, Moota berkomitmen untuk membantu bisnis dan individu dalam mengelola keuangan secara lebih mudah, aman, dan efisien.
Jangan sungkan hubungi CS khusus Anda di aplikasi Moota!